Home » , » Tak Efektif, Rusunawa Mubadzir

Tak Efektif, Rusunawa Mubadzir

Written By M Jenggala on Rabu, 17 April 2013 | 03.47

SIDOARJO – Pembangunan  rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di kawasan Sidoarjo tampaknya tidak efektif. Bahkan, Rusunawa yang dibangun di empat titik dengan anggaran Rp 43 miliar   itu terkesan mubadzir, karena hanya buang-buang anggaran saja. Sebab, dari empat titik yang dibangun Rusunawa itu tingkat huniannya rata-rata hanya mencapai 10 persen.  


 Rusunawa 
Di antara Rusunawa yang sudah dibangun itu  di kawasan Ngelom, Taman, dengan biaya sekitar Rp 12 miliar dan rusunawa di Kelurahan Bulusidokare, Kecamatan Sidoarjo  dengan anggaran sekitar Rp 7 miliar. Sedangkan Rusunawa di Pucang dianggarkan mencapai  Rp 24 miliar. Sehingga, berdasarkan total mencapai Rp 43 miliar.
Indikasi ketidakefektifan dan kemubadziran pembangunan Rusunawa itu tercermin dari animo masyarakat berpenghasilan rendah yang berminat untuk menempati. Sebab, jumlah penghuni Rusunawa di empat titik itu  sampai kini belum menunjukkan progres yang positif.
Kepala UPTD Rusunawa Kabupaten Sidoarjo Agus Priyanto tidak menampik bila jumlah penghuni pada rusun-rusun di Sidoarjo belum menunjukkan pergerakan positif. Menurut Agus, rendahnya animo masyarakat memilih rusun sebagai tempat tinggal, dikarenakan pihaknya tidak memilik cukup tenaga pemasaran.
Akibat sepinya peminat, lanjut Agus, pihaknya untuk sementara terpaksa menutup satu bangunan di rusun Ngelom. Sehingga dari dua bangunan yang menjulang, satu bangunan rusun kosong melompong tanpa penghuni. Meskipun kosong, Agus memastikan hunian pada rusun Ngelom dan rusun lainnya yang telah berdiri siap menampung penyewa yang tertarik menghuninya.   
Agus menegaskan, sepinya peminat rusun di Sidoarjo, bukan berarti Pembangunan rusun gagal. Pasalnya, tujuan utama Pemkab Sidoarjo membangun rusun untuk mengakomodasi rakyat miskin yang ingin mendapatkan lingkungan hidup sehat. Untung rugi, lanjutnya, bukan tujuan utama berdirinya empat rusun saat ini. Bahkan kriteria yang ditetapkan pihaknya bagi calon penghuni rusun cukup ketat.
Hal itu untuk memastikan keberadaan rusun benar- benar tepat sasaran bagi masyarakat berpenghasilan rendah. "Kalo tiba-tiba ada penghuni yang bawa mobil, biasanya kita bilangi baik-baik. Intinya rusun ini digunakan untuk masyarakat miskin, ya tentu kita suruh keluar dari rusun. Jadi kita bukan cari untung semata," imbuhnya.
Bagikan artikel ini :
 
Supported by: Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner
Copyright © 2013. MEDIA JENGGALA.Com - All Rights Reserved
Created by: MEDIA JENGGALA - Tajam Dalam Mengawasi
Published by: WWW.MEDIAJENGGALA.Com